- by admin
- 0
- Posted on
5 Rahasia Jitu Soal FPB dan KPK Kelas 4 Pohon Faktor 2026
Materi FPB dan KPK seringkali menjadi tantangan bagi siswa kelas 4 SD. Namun dengan bantuan pohon faktor, proses mencari faktor persekutuan terbesar dan kelipatan persekutuan terkecil bisa jauh lebih mudah. Artikel ini menyajikan lima soal latihan yang dirancang khusus untuk memahami konsep tersebut secara bertahap.
Setiap soal dilengkapi dengan langkah penyelesaian menggunakan pohon faktor. Metode ini sangat visual dan membantu siswa melihat langsung faktor prima dari suatu bilangan. Dengan berlatih secara rutin, pemahaman siswa terhadap materi ini akan semakin kuat.
1. Soal FPB Sederhana: 12 dan 18
Soal pertama meminta kita mencari FPB dari 12 dan 18. Langkah awal adalah membuat pohon faktor untuk masing-masing bilangan.
Pohon faktor 12 dimulai dengan membagi 12 menjadi 2 dan 6. Selanjutnya 6 dipecah menjadi 2 dan 3, sehingga diperoleh faktor prima 2, 2, dan 3. Pohon faktor 18 dimulai dengan 2 dan 9, lalu 9 menjadi 3 dan 3, sehingga faktor primanya adalah 2, 3, dan 3.
FPB diambil dari faktor prima yang sama dengan pangkat terkecil. Faktor yang sama adalah 2 dan 3, masing-masing pangkat 1. Jadi FPB 12 dan 18 adalah 2 × 3 = 6. Soal ini sangat cocok untuk pemula karena angkanya kecil dan hanya melibatkan dua bilangan.
2. Soal KPK Sederhana: 8 dan 12
Soal kedua meminta KPK dari 8 dan 12. Proses membuat pohon faktor tetap dilakukan terlebih dahulu.
Pohon faktor 8: 2 dan 4, lalu 4 menjadi 2 dan 2, sehingga faktor primanya 2, 2, dan 2 (2³). Pohon faktor 12 sama seperti sebelumnya: 2, 2, dan 3 (2² × 3).
KPK diperoleh dengan mengambil semua faktor prima dengan pangkat tertinggi. Di sini 2³ dan 3¹, sehingga KPK = 8 × 3 = 24. Soal ini mengajarkan bahwa KPK bisa lebih besar dari kedua bilangan asal, berbeda dengan FPB yang selalu lebih kecil atau sama dengan bilangan terkecil.
3. Soal FPB dengan Tiga Bilangan: 18, 24, dan 36
Soal ketiga menantang siswa dengan tiga bilangan sekaligus. FPB dari 18, 24, dan 36 perlu dicari dengan pohon faktor masing-masing.
Pohon faktor 18: 2 × 3 × 3 (2 × 3²). Pohon faktor 24: 2 × 2 × 2 × 3 (2³ × 3). Pohon faktor 36: 2 × 2 × 3 × 3 (2² × 3²).

Faktor prima yang sama di ketiga bilangan adalah 2 dan 3. Ambil pangkat terkecil: 2¹ dan 3¹. Maka FPB = 2 × 3 = 6. Soal ini melatih siswa untuk tidak bingung ketika berhadapan dengan banyak bilangan, dan tetap fokus pada faktor yang muncul di semua pohon.
4. Soal KPK dengan Tiga Bilangan: 4, 6, dan 8
Soal keempat meminta KPK dari 4, 6, dan 8. Pertama, buat pohon faktor masing-masing.
Pohon faktor 4: 2 × 2 (2²). Pohon faktor 6: 2 × 3 (2 × 3). Pohon faktor 8: 2 × 2 × 2 (2³).
KPK dihitung dengan mengambil faktor prima dengan pangkat tertinggi. Soal ini menunjukkan bahwa meskipun salah satu bilangan (6) tidak memiliki pangkat tertinggi, semua faktor tetap diakomodasi. Siswa belajar untuk tidak melewatkan faktor prima yang hanya muncul di satu bilangan.
5. Soal Cerita FPB dan KPK: Bunga dalam Vas
Soal kelima berupa cerita: Ibu memiliki 24 bunga mawar dan 18 bunga melati. Ia ingin membuat beberapa vas bunga dengan jumlah dan jenis bunga yang sama di setiap vas. Berapa vas terbanyak yang bisa dibuat? Berapa jumlah bunga masing-masing dalam setiap vas?
Pertanyaan pertama mencari FPB dari 24 dan 18. Pohon faktor 24: 2³ × 3. Pohon faktor 18: 2 × 3². FPB = 2 × 3 = 6 vas. Jadi vas terbanyak adalah 6 buah.
Pertanyaan kedua menanyakan isi setiap vas. Bunga mawar per vas = 24 ÷ 6 = 4 tangkai. Bunga melati per vas = 18 ÷ 6 = 3 tangkai. Soal ini mengintegrasikan FPB ke dalam konteks kehidupan sehari-hari, sehingga siswa memahami aplikasi nyata dari konsep yang dipelajari.
Kesimpulan
Melalui lima soal di atas, siswa kelas 4 dapat berlatih mencari FPB dan KPK menggunakan pohon faktor secara bertahap. Mulai dari dua bilangan sederhana hingga soal cerita, setiap latihan memperkuat kemampuan analisis dan logika.
Pohon faktor bukan satu-satunya metode, tetapi cara ini sangat dianjurkan karena membantu visualisasi faktor prima. Dengan pemahaman yang baik, siswa akan lebih siap menghadapi soal-soal matematika yang lebih kompleks di jenjang berikutnya.
